Kisah Haru Distribusi 1000 Mushaf IMN di Masa Pandemi
MALANG – Langit di atas wilayah Jabung dan sekitarnya pada Desember 2020 tampak abu-abu, seolah mencerminkan sisa-sisa kelesuan akibat hantaman pandemi COVID-19 yang belum sepenuhnya reda. Namun, di balik dinding-dinding kayu tempat mengaji dan teras-teras rumah panggung, sebuah api kecil bernama harapan sedang dinyalakan kembali.
Ishmah Madani Network (IMN), sebuah organisasi yang bergerak dalam sinergi kemanusiaan, meluncurkan sebuah misi ambisius namun sangat menyentuh hati: Mendistribusikan 1.000 Mushaf Al-Qur’an untuk santri di pelosok daerah. Bukan sekadar membagikan buku, gerakan ini adalah upaya menyambung kembali mimpi-mimpi anak-anak di daerah marjinal yang sempat redup karena himpitan ekonomi.
Luka Pandemi dan Mushaf yang Usang
Desember 2021 adalah masa transisi yang sulit. Pandemi tidak hanya merenggut kesehatan, tetapi juga melumpuhkan sendi-sendi ekonomi masyarakat di daerah pinggiran, seperti Jabung, Malang. Bagi sebagian besar orang tua santri yang mayoritas bekerja sebagai buruh tani atau pekerja harian, memenuhi kebutuhan meja makan adalah prioritas utama. Membeli Mushaf Al-Qur’an yang baru dan layak seringkali menjadi kemewahan yang tak terjangkau.
Dampaknya terlihat nyata di tempat-tempat mengaji. Di banyak TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an) di wilayah Jabung, pemandangan Mushaf yang sampulnya lepas, kertasnya menguning dan rapuh, hingga halaman-halaman yang hilang, menjadi pemandangan sehari-hari.
“Pandemi ini dampaknya sangat terasa, terutama secara ekonomi. Banyak santri yang sebenarnya butuh Al-Qur’an baru, tapi orang tua mereka benar-benar tidak mampu membelinya. Di daerah marjinal seperti ini, prioritasnya adalah bertahan hidup,” ujar salah satu relawan di lapangan.
Kondisi inilah yang menjadi pemantik bagi Ishmah Madani Network untuk bergerak. Mereka melihat bahwa di tengah krisis, asupan spiritual dan pendidikan agama tidak boleh terhenti.
Perjalanan Menjemput Senyum Santri
Distribusi 1.000 Mushaf ini bukanlah tugas yang ringan. Medan yang ditempuh mencakup daerah-daerah yang aksesnya tidak selalu mulus. Namun, kelelahan para relawan seolah sirna begitu mereka memasuki area perkampungan.
Suasana di lokasi pembagian benar-benar pecah dalam kegembiraan. Di salah satu titik distribusi, anak-anak santri tampak sudah berkumpul sejak siang hari. Mata mereka berbinar setiap kali melihat mobil atau motor relawan yang membawa kardus-kardus berisi kitab suci.

Ada keceriaan yang tulus, sebuah atmosfer yang kontras dengan berita-berita suram tentang pandemi yang saat itu masih kerap menghiasi layar kaca. Riuh rendah suara tawa dan bisik-bisik antusias para santri menyambut kedatangan tim IMN. Bagi mereka, memegang Mushaf yang baru, bersih, dan harum bau kertas segar adalah sebuah pengalaman istimewa.
Irsyadul Ibaad: Sinergi yang Menghidupkan
Di sela-sela kegiatan distribusi, Irsyadul Ibaad, selaku Ketua Pelaksana Program, tampak sibuk memastikan setiap Mushaf sampai ke tangan yang tepat. Dengan wajah penuh rasa syukur, ia menekankan bahwa keberhasilan program ini adalah buah dari kerja keras kolektif.
“Kami tidak berjalan sendirian. Program 1.000 Mushaf ini bisa terwujud karena adanya sinergi yang luar biasa dari berbagai pihak,” ujar Irsyadul.
Ia tidak henti-hentinya menyampaikan apresiasi kepada para donatur dan partisipan. Menurutnya, setiap rupiah yang disumbangkan telah berubah menjadi butiran keberkahan yang kini dipegang oleh anak-anak di pelosok Jabung.

“Terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh partisipan yang telah menitipkan amanahnya melalui Ishmah Madani Network. Kepercayaan Anda adalah bahan bakar bagi kami untuk terus menjangkau daerah-daerah yang selama ini mungkin terlupakan,” tambahnya dengan nada penuh haru.
Irsyadul juga melihat bahwa Al-Qur’an ini adalah simbol investasi masa depan. “Kita sedang menanam benih. Al-Qur’an yang mereka baca hari ini akan membentuk karakter mereka di masa depan. Di tengah kesulitan ekonomi, kita ingin memastikan bahwa akses terhadap literasi agama tetap terbuka lebar.”
Suara dari Serambi Mengaji: Terima Kasih Pak Guru
Kebahagiaan yang sama dirasakan oleh para pengajar di lapangan. Ustadz Imam, salah satu guru ngaji yang mendampingi para santri di Jabung, tak kuasa menyembunyikan rasa syukurnya. Baginya, bantuan ini datang di saat yang sangat tepat.
“Selama ini kami mengajar dengan kondisi apa adanya. Melihat anak-anak sekarang bisa memegang Al-Qur’an yang layak, rasanya beban kami sebagai pengajar menjadi lebih ringan dan semangat anak-anak pun meningkat berlipat ganda,” kata Ustadz Imam.
Beliau juga menitipkan pesan mendalam untuk tim IMN dan para donatur. “Saya mewakili para guru ngaji dan wali santri mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Ishmah Madani Network dan semua pihak yang membantu. Semoga ini menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir selamanya. Bantuan ini sangat berarti bagi kami di daerah pelosok.”

Ustadz Imam menceritakan bagaimana sebelumnya beberapa santri harus bergantian menggunakan Al-Qur’an karena keterbatasan jumlah yang layak. Kini, dengan adanya pendistribusian ini, proses belajar mengajar menjadi jauh lebih efektif.
Lebih dari Sekadar Kertas dan Tinta
Menjelang senja di Jabung, suara anak-anak yang mulai melantunkan ayat-ayat suci terdengar lebih nyaring dari biasanya. Ada semangat baru dalam nada suara mereka. Mushaf-mushaf baru itu kini dipeluk erat, dijaga seolah-olah merupakan harta paling berharga yang pernah mereka miliki.
Reportase ini mencatat bahwa gerakan 1.000 Mushaf oleh Ishmah Madani Network bukan sekadar proyek filantropi biasa. Ini adalah sebuah gerakan sosial yang membuktikan bahwa kepedulian tidak boleh karantina oleh pandemi. Di saat ekonomi melambat, justru kedermawanan harus dipercepat.
Kegiatan di Desember 2021 ini menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa di sudut-sudut terpencil nusantara, masih banyak tangan kecil yang menengadah, menanti cahaya ilmu. Dan melalui tangan-tangan baik di Ishmah Madani Network, cahaya itu akhirnya sampai, menerangi hati para santri, dan menghangatkan kembali Jabung dengan nilai-nilai suci Al-Qur’an.
Perjalanan mungkin telah usai secara teknis pendistribusian, namun dampak dari setiap ayat yang dibaca dari 1.000 Mushaf tersebut baru saja dimulai. Jabung telah bersaksi, bahwa di balik kesulitan, selalu ada kemudahan bagi mereka yang mau berbagi.
Bersama Kita Bisa!
Oleh: Redaksi Reportase IMN
Liputan Khusus Desember 2020
