Guru Ngaji: Penjaga Nasionalisme dan Peradaban
MALANG – Di sebuah ruangan yang dipenuhi semangat di wilayah Jabung, Kabupaten Malang, sebuah narasi besar sedang dirajut. Bukan oleh para politisi di podium megah, melainkan oleh puluhan guru ngaji yang sehari-harinya bergelut dengan alif, ba, dan ta di pelosok desa.
Pada Sabtu, 24 Juni 2023, Ishmah Madani Network (IMN) menyelenggarakan workshop bertajuk “Guru Ngaji: Merawat Nasionalisme Membangun Peradaban Berkeadilan Sosial”. Agenda ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah ikhtiar strategis dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi para penjaga moral bangsa di akar rumput.
Sinergi Lintas Sektor: DPRD Jatim dan MBS
Kegiatan ini menjadi istimewa karena adanya kolaborasi erat antara unsur legislatif, lembaga sosial, dan gerakan pemberdayaan. Keterlibatan DPRD Jawa Timur dalam agenda ini menunjukkan bahwa penguatan peran guru ngaji telah menjadi perhatian di tingkat provinsi. Dukungan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk pengakuan negara terhadap peran vital pendidik non-formal di desa-desa.
Selain itu, hadirnya Malang Berdaya Sejahtera (MBS) memberikan dimensi baru dalam workshop ini. Sebagai lembaga yang fokus pada kesejahteraan masyarakat Malang, MBS turut menyelaraskan program ini dengan visi besar pembangunan daerah yang inklusif. Sinergi antara IMN, DPRD Jatim, dan MBS menciptakan sebuah ekosistem pendukung yang kuat bagi para guru ngaji untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga berdaya secara sosial dan ekonomi.
Urgensi SDM: Guru Ngaji di Garis Depan
Latar belakang diadakannya workshop ini berakar pada kesadaran akan posisi vital guru ngaji. Selama ini, peran mereka seringkali dipandang sebelah mata, terbatas pada pengajaran literasi Al-Qur’an semata. Padahal, di tangan merekalah karakter generasi muda terbentuk sejak dini.
Dalam konteks kebangsaan, guru ngaji adalah penyaring pertama terhadap paham-paham yang berpotensi memecah belah bangsa. Oleh karena itu, membekali mereka dengan wawasan kebangsaan dan pemahaman tentang keadilan sosial menjadi sebuah keharusan demi membangun peradaban yang kokoh.
Nasionalisme dalam Napas Pendidikan Agama
Hadir sebagai narasumber utama, Hj. Hikmah Bafaqih, M.Pd., Anggota DPRD Jawa Timur yang dikenal vokal dalam isu-isu sosial dan pendidikan, memberikan pemaparan yang menggugah. Sebagai representasi dari DPRD Jatim, beliau membawa pesan bahwa kebijakan publik harus mulai menyentuh aspek kesejahteraan dan kapasitas guru ngaji.
“Guru ngaji memiliki peran yang sangat strategis. Kalian bukan hanya mengajar membaca ayat, tapi sedang merawat nasionalisme. Membangun peradaban itu dimulai dari surau, dari langgar, dan dari TPA,” tegas Hikmah di hadapan para peserta.

Ia menekankan bahwa DPRD Jatim terus berkomitmen untuk mengawal aspirasi para guru ngaji. Membangun peradaban yang berkeadilan sosial memerlukan fondasi moral yang kuat, dan guru ngaji adalah arsiteknya. Hikmah mendorong para peserta untuk terus memperluas wawasan agar mampu menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks.
Guru Ngaji: Sang Backbone Moral Bangsa
Senada dengan hal tersebut, Winartono, S.S., M.I.Kom., seorang praktisi sosial dan aktivis yang berpengalaman dalam pemberdayaan masyarakat, membedah kaitan erat antara Islam dan nasionalisme. Menurutnya, mencintai tanah air adalah bagian dari iman yang diwujudkan melalui pengabdian kepada masyarakat.

Winartono, yang juga banyak bersinggungan dengan gerakan pemberdayaan seperti di Malang Berdaya Sejahtera (MBS), menyebut guru ngaji sebagai backbone atau tulang punggung moral bangsa. “Negara ini bisa berdiri tegak karena ada pilar-pilar moral di tingkat desa. Jika moralitas di tingkat bawah runtuh, maka runtuh pula fondasi bangsa kita. Itulah mengapa peran guru ngaji sangat krusial,” paparnya.
Atmosfer Jabung: Dialog, Tawa, dan Semangat
Meskipun topik yang diangkat tergolong berat, atmosfer di dalam ruangan workshop justru jauh dari kesan kaku. Sejak pembukaan hingga penutupan, suasana terasa ceria dan penuh semangat. Hal ini tidak lepas dari metode penyampaian para pemateri yang interaktif.
Sesi tanya jawab menjadi momen yang paling dinanti. Para guru ngaji dari berbagai desa di Jabung tampak sangat antusias melemparkan pertanyaan, mulai dari cara menghadapi tantangan digital hingga bagaimana menyisipkan nilai-nilai toleransi dalam pengajaran harian. Gelak tawa sesekali pecah saat narasumber memberikan jawaban dengan bumbu humor segar, membuat durasi workshop menjadi tidak terasa melelahkan.

Apresiasi dan Harapan Masa Depan
Keberhasilan acara ini tidak lepas dari koordinasi yang apik oleh tim Ishmah Madani Network (IMN). Wisnu Adtya, aktivis sosial IMN yang menjadi sosok di balik layar, menutup rangkaian acara dengan ucapan terima kasih yang mendalam kepada semua pihak.
“Kami menyadari bahwa perjuangan membangun peradaban ini tidak bisa dilakukan sendiri. Terima kasih kepada Ibu Hikmah dari DPRD Jatim, rekan-rekan dari MBS, dan seluruh guru ngaji yang hadir. Sinergi ini adalah bukti bahwa kita semua peduli pada masa depan generasi kita,” ujar Wisnu.
Ia juga menyampaikan bahwa dukungan dari lembaga seperti DPRD Jatim dan MBS sangat penting untuk keberlanjutan program pengembangan SDM ini di masa depan.
Menuju Peradaban Berkeadilan
Saat matahari mulai condong ke barat di ufuk Jabung, para guru ngaji pulang dengan membawa kesadaran baru. Mereka kini memahami bahwa setiap kali mereka mengajarkan santri untuk jujur, berbagi, dan mencintai sesama, mereka sedang meletakkan batu bata untuk bangunan peradaban Indonesia yang lebih baik.
Workshop “Guru Ngaji: Merawat Nasionalisme Membangun Peradaban Berkeadilan Sosial” telah usai, namun gaungnya diharapkan terus bergema di ruang-ruang kelas kecil di pelosok desa. Karena di tangan para penjaga moral inilah, didukung oleh sinergi kebijakan dan gerakan sosial, wajah Indonesia di masa depan sedang dibentuk.
Bersama Kita Bisa!
Oleh: Redaksi Jurnalistik Reportase IMN
Malang, Juni 2023
