Kala Candra Cahya: Simfoni Maulid Macapat Tegalsari
MALANG – Di sudut Wisma Tegal Sari, Komplek Riverside Zawiya, malam tidak hanya diisi oleh suara jangkrik dan semilir angin sungai. Ada frekuensi berbeda yang bergetar di udara. Suara dentum jidor yang mantap berpadu dengan gemerincing terbang, disusul denting gamelan yang menyusup di sela-sela bait puitis. Malam itu, kami merayakan cinta kepada Sang Nabi melalui sebuah harmoni unik: Maulid Macapat.
Membaca “Kala Candra Cahya”: Perjalanan Sang Nabi
Pusat dari kegiatan ini adalah pembacaan Serat Kala Candra Cahya, sebuah karya orisinil gubahan komunitas kami. Judul ini secara harfiah bermakna “Waktu men’candra’ sang cahaya”, sebuah metafora menaladani Nabi Muhammad SAW.
Sesuai filosofi perjalanan hidup manusia, Serat ini dibawakan dalam urutan metrum macapat yang disesuaikan dengan fase kehidupan Sang Rasul:
Asmaradana: Melambangkan api cinta dan kerinduan alam semesta menyambut kehadiran sosok pilihan.
Mijil: Menggambarkan momen kelahiran Sang Cahaya di dunia.
Hingga Pocung: Sebagai pengingat akan kefanaan dan kepulangan menuju Yang Maha Kuasa.
Tiga pemaos utama—M. Anwaruddin, Misbahul Ulum, dan Baitul Musthofa—bergantian melantunkan bait-bait tersebut dengan cengkok yang dalam, membuat setiap pendengar seolah masuk ke dalam lorong waktu sejarah kenabian.
Simfoni Langit dan Bumi
Yang membuat Maulid Macapat ini istimewa adalah keberaniannya mengawinkan dua kutub instrumen. Di sela-sela pembacaan bait macapat, suasana mendadak beralih menjadi dinamis saat kitab Mawlid Addiba’i dibacakan.
Di sinilah “Spirit Langit dan Bumi” itu terasa nyata.
Terbang, Rebana, dan Jidor yang meledak-ledak melambangkan semangat “Langit”—pujian vertikal yang penuh energi dan kegembiraan khas padang pasir.
Aneka Gamelan yang meliuk syahdu melambangkan harmoni “Bumi”—ketenangan spiritual dan kerendahan hati khas tanah Jawa.
Perpaduan ini menciptakan gelombang audio yang tidak hanya memanjakan telinga, tapi juga menggetarkan dada.
Melampaui Ritual: Mencetak Manusia yang “Manusia”
Inisiasi yang dimulai 5 tahun yang lalu ini bukan sekadar upaya pelestarian budaya yang kaku. Sejak awal, Maulid Macapat di Riverside Zawiya dirancang sebagai wadah bagi anak-anak muda.
“Kami ingin mengajak anak muda untuk berkesenian dan berkarya, namun tetap berpijak pada akhlak,” tutur Cak Bill Lurah penggerak di Wisma Tegal Sari. Di sini, seni menjadi jembatan. Dengan ber-Macapat, mereka belajar kesabaran dan filsafat; dengan ber-Shalawat, mereka belajar cinta. Output-nya sederhana namun mendalam: menjadi manusia yang benar-benar “manusia”—sosok yang memiliki kepekaan rasa (seni) dan keluhuran budi (akhlak).
Penutup
Maulid Macapat adalah bukti bahwa tradisi tidak harus mati digilas zaman, dan agama tidak harus kaku dalam penyampaiannya. Di Wisma Tegal Sari, kami menemukan bahwa rindu kepada Baginda Nabi bisa dialirkan melalui laras pelog yang merintih maupun tabuhan rebana yang berapi-api.
Bagi kami, Kala Candra Cahya adalah pengingat: bahwa sejauh apa pun kita berjalan, cahaya Rasulullah adalah kompas yang menuntun kita kembali pulang. Bersama kita bisa!




